Showing posts with label Kanker Payudara. Show all posts
Showing posts with label Kanker Payudara. Show all posts

Monday, July 17, 2017

Banyak Digunakan di Rumah, Hati-hati Benda Ini Bisa Menyebabkan Kanker Payudara


Sampai saat ini, kanker payudara masih menjadi salah satu momok yang paling ditakuti oleh banyak wanita di seluruh dunia.Apalagi semakin lama, jumlah penderita kanker payudara semakin bertambah. Saat ini saja, tercatat satu dari delapan wanita memiliki risiko mengidap kanker payudara.
Bahkan dalam setahun, angka kematian yang disebabkan oleh kanker payudara mencapai 40.000 jiwa di seluruh dunia.

Karena itu, sudah saatnya kita sesama wanita, saling mengingatkan tentang bahaya kanker payudara. Banyak hal kecil yang bisa dilakukan untuk mencegah kanker payudara.Salah satunya adalah menjauhkan diri dari bahan-bahan atau material yang mengandung bahan kimia pemicu kanker. Bahan kimia itu secara tidak disadari masih banyak terkandung di alat-alat yang kita gunakan sehari-hari, terutama yang berbahan plastik.

Berikut tiga kandungan kimia berbahaya yang terkandung dalam berbagai perlengkapan sehari-hari. Sebaiknya, kurangi dan hindari memakainya.
1. Bisphenol-A (BPA)

Bisphenol A, materialnya berasal dari bahan plastik.
Bahan kimia ini berfungsi merusak hormon. Mengerikan, karena kandungan ini nyaris bisa ditemukan di segala benda. Studi menyebutkan bahwa kandungan BPA juga dihubungkan dengan proses pubertas yang terlalu dini, salah satu penyebab kanker payudara.

Cara menghindarinya, perhatikan setiap kemasan dan pastikan bahannya BPA-free alias tidak mengandung BPA. Pilihlah bahan material kaca atau stainless steel ketimbang kemasan plastik.

2. Phthalate

Ini adalah klasifikasi bahan kimia yang banyak digunakan di produk-produk. Bahan ini bisa membuat plastik menjadi lebih lembut dan lentur.Zat ini juga digunakan di banyak pewangi udara, kosmetika, deterjen, dan produk pembersih. Pastikan tanda "phthalate-free" di kemasan barang yang ingin Anda beli.

Berhenti membeli produk berbahan vinyl yang sudah bisa dipastikan mengandung phthalate. Berhenti juga menggunakan pengharum sintetis seperti lilin dan pengharum ruangan. Lebih baik gunakan essential oil.

3. Paraben

Praben cukup berbahaya, waspada, ya!
Zat kimia ini digunakan sebagai pengawet di kosmetika. Bisa ada di mana saja, seperti losion, krim dan deodoran. Dengan mudahnya, zat ini bisa terserap ke dalam kulit.Tak cukup dengan memperhatikan label "paraben-free", tapi juga tolak semua kemasan yang megandung kata "paraben" di belakangnya, seperti "methylparaben".Jangan lupa konsultasi rutin ke dokter kulit Anda tentang penggunaan produk kecantikan yang tepat dan sehat. (Dosir Weis)

Wednesday, June 21, 2017

Pesan Menkes agar Wanita Terhindar Kanker Payudara dan Serviks


Kematian karena kanker payudara dan kanker serviks (kanker leher rahim) dapat dicegah lebih dini. Menteri Kesehatan Nila Farida Moeloek mengajak seluruh masyarakat, khususnya wanita untuk memeriksakan diri agar terlindungi dari risiko akut kanker payudara dan kanker serviks.

Ditemui di Gedung Kementerian Kesehatan, Senin (17/4/2017) pada acara Deteksi Dini Kanker Serviks dan Payudara dengan Tes IVA dan Sadani, Menkes Nila Moeloek menekankan betapa pentingnya memerangi kanker payudara dan kanker serviks.

"Dulu, saya pernah bergabung di Yayasan Kanker Indonesia (YKI). Kanker payudara dan kanker serviks memang menjadi permasalahan luar biasa yang hingga kini harus terus ditangani," katanya.

Wanita bisa melakukan deteksi kanker payudara dengan pemeriksaan payudara sendiri. Bila ada benjolan sebaiknya segera memeriksakan diri. Hindari menunda pemeriksaan.Semakin cepat terdeteksi, maka pengobatan pun dapat dilakukan segera dan efektif.

Menyoal kanker serviks

Berbeda dengan kanker payudara yang bisa diketahui dari salah satu gejala berupa benjolan, kanker serviks sulit dideteksi.

"Kanker serviks memang sukar dilihat. Ada baiknya wanita melakukan skrining dengan tes IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat). Asam asetat ini biasa dikenal dengan nama asam cuka. Jadi, jangan sembarangan dicoba sendiri. Harus ada petugas kesehatan yang membantu menanganinya," jelas Menkes Nila Moeloek.

Asam asetat dioleskan ke leher rahim. Setelah dioleskan, hasil akan terlihat, apakah ada bercak putih atau tidak. Namun, bercak putih yang terlihat bukan berarti positif terkena kanker serviks.

"Bercak putih sebagai tanda kalau wanita dicurigai gejala pra kanker--sebelum terjadinya kanker. Adanya  pra kanker ini dapat dikonsultasikan lebih lanjut dengan dokter," lanjut Menkes Nila Moeloek.

Pemeriksaan kanker serviks dengan tes IVA mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, kurang dari 1 juta wanita yang memeriksakan diri tes IVA pada tahun 2007-2014.

Di tahun selanjutnya, wanita yang melakukan tes IVA bertambah 400 ribu. Kini, ada 1,2 juta wanita yang sudah melakukan tes IVA.

Friday, June 16, 2017

Keren, Remaja Ini Ciptakan Bra yang Mampu Deteksi Kanker Payudara


Seorang remaja asal Meksiko memenangkan penghargaan Global Student Entrepreneur Awards (GSEA) setelah menciptakan bra yang mampu deteksi kanker payudara.

Julian Rios Cantu (18) mengatakan, ciptaannya itu terinspirasi dari ibunya yang berulang kali melawan penyakit kanker payudara, hingga akhirnya kedua payudaranya diangkat.

Di dalam bra ini, kata dia, ada alat untuk wanita dengan predisposisi genetik terhadap kanker payudara.

"Kenapa bra? Karena hanya inilah yang memungkinan payudara berada di posisi yang sama dan tidak harus dipakai lebih dari satu jam seminggu," katanya seperti dimuat laman Foxnews, Selasa (2/7/2017).

Julian yang merupakan seorang mahasiswa teknik dari Monterrey, menjelaskan, biosensor pada bra ini bisa memetakan permukaan payudara dan dapat menentukan konduktivitas termal berdasarkan zona tertentu.

"Lebih banyak panas akan menunjukkan lebih banyak aliran darah," katanya. Karena panas tersebut akan menunjukkan bahwa pembuluh darah "memberi makan" sesuatu yang biasanya akibat dari beberapa jenis sel kanker.

Secara sederhana, kata Julian, bra ini bekerja dengan sistem EVA, jaringan biosensor yang menutupi payudara wanita kemudian mengambil data suhu, menganalisisnya, dan mengirimkan informasinya ke aplikasi atau komputer manapun. "Begitu ada malformasi di payudara atau tumor, maka suhu bra semakin tinggi," pungkasnya

Sumber http://health.liputan6.com/